Si Meong Mati: Sedihnya Tak Terlukiskan

Saat aku menulis ini, air mataku masih terus berlinangan, setelah dua jam menangis dan terus terisak. Duh, Tuhan, rasanya campur aduk, sedih, menyesal, dan rasanya ingin memutar waktu beberapa hari ke belakang, andai bisa.

kucingku1

 

kucing1

Hari Selasa tanggal 12 September, di pagi hari, si kucing masih terlihat biasa. Selesai buang kotoran, masih main main di teras rumah. Biasanya dia makan jam 10 pagi. Tapi karna aku baru pulang, aku kasih makan jam 11. Dia cuma makan sedikit. Aneh, padahal belakangan ini si kucing makannya banyak dan terlihat selalu lapar. Karna dia gak mau makan, setiap satu jam aku kasih lagi dan tidak disentuh. Dia cuma mau minum dan itupun sedikit sedikit.

Aku masih menganggap gak apa apa. Toh pernah juga dia begitu. Gak selera makan. Malam harinya aku melihat dia menjilat jilat lantai. Aku mendekat dan ternyata ada darah di bagian pantatnya. Aku kira itu darah keluar dari pantat. Aku langsung search dan yang kubaca kalau darah keluar dari pantat kucing itu bisa karna ambeien. Beberapa saat kemudian aku coba periksa pantatnya dan ternyata itu darah keluar dari kemaluan, bukan dari anus. Lha ini kenapa? Apa dia hamil dan mau melahirkan? Aku search lagi di google tapi gak kutemukan data bahwa mengeluarkan darah dari kemaluan kucing adalah salah satu ciri mau melahirkan. Berdarah itu biasanya setelah anaknya lahir.

Aku mulai cemas.  Pas suami pulang di malam hari, aku bilang si kucing sakit dan berdarah. Harus dibawa ke dokter besok. Paginya aku bikin janji dengan klinik hewan yang kusearch di internet dan akan datang jam 1 siang. Aku hubungi suami agar ijin sebentar pas jam makan siang. Soalnya aku gak bisa bawa si kucing sendiri dan dia bilang ok. Eh menjelang siang, suami telepon gak bisa pulang karna masih sibuk. Akhirnya mundur sore aja. Di jam jam ini si kucing cuma diam aja, gak mau makan dan sesekali pindah tempat. Darah masih keluar sesekali.

Jam 4 sore suami pulang dan sampai di rumah jam 4.30. Kami langsung berangkat bawa si kucing yang kubungkus dengan kain karna gak punya kandang. Tapi karna macet, klinik sudah tutup jam 5 tepat dan akhirnya kami cari klinik lagi. Sampai di klinik sekitar jam 7 malam. Hasilnya ternyata si kucing sedang hamil dan keguguran. Satu satunya jalan harus dioperasi, kalau gak, dia bisa mati karna anak yang sudah mati akan membusuk di dalam dan menginfeksi induknya. Butuh biaya satu juta. Dokternya minta 500 ribu sebagai DP. Dokter bilang dia akan operasi besok pagi. Tapi kemudian dia bilang akan operasi malam itu juga. Dia bilang besok pagi atau kapan saja boleh jenguk. Kucing baru boleh pulang hari senin tanggal 18 September. Karna udah tahu sakitnya dan sudah ada solusi, kamipun pulang dengan hati lega.

Tadi sore, aku ajak suami dan anak untuk jenguk si kucing. Gak ada sedikitpun kekhawatiran si kucing bakal mati. Dari rumah jam 6 dan sampai di klinik jam 8 karna macet luar biasa. Sampai di sana, lagi ada pengunjung dan aku bilang mau lihat kucing kami. Dokternya bilang sebentar ya. Tapi aku heran kog asistennya kayak nyengir, kayak senyum senyum, dan bisik bisik ama dokternya. Perasaanku udah mulai gak enak nih. Setelah pengunjung pulang, dokternya menunjukkan baskom berisi anak kucing yang sudah mati di dalam. Ada dua ekor anaknya. Trus dokternya bilang, “Tadi pagi saya operasi dan berjalan baik. Trus tadi dia lemas dan sempat saya kasih pertolongan tapi barusan kucingnya mati. Maaf ya, Bu.”

Aku kaget luar biasa. Kog baru tadi pagi dioperasi? Bukannya katanya semalam mau dioperasi? Berarti semalaman ini kucingnya dibiarin aja begitu di kandang? Apa gak makin lemas? Bukannya harusnya langsung dioperasi agar tidak terus pendarahan lagi?Lalu kucingnya diambil dari atas. Tangisku langsung meledak. Gak kuat liatnya. Posisinya miring dan matanya terbuka. Aku pegang sudah kaku sekali. Lalu aku tanya :
Kog badannya sudah kaku sekali? Berarti bukan barusan mati dong ini.
Dokternya bilang, 15 menit setelah kucing mati badannya langsung kaku. Tapi aku gak percaya. Aku juga pernah mendapati kucing mati dan tidak langsung sekaku itu dalam 15 menit. Artinya itu kucing sudah berjam jam mati. Kog dia tidak telepon? Lalu kalau kami tidak datang tadi, apa dia biarin aja kucingnya mati dan nunggu kami kapan datang ke situ?

Aku menangis terus sambil elus elus si kucing. Mayatnya tidak kami bawa. Kata dokternya dia bisa kuburkan. Lagipula kalau dibawa ke rumah, kami gak tau mesti kubur di mana. Aku hanya bawa pulang kain pembungkus yang penuh darah waktu bawa dia ke klinik. Di mobil, kami bertiga bertangis tangisan. Aku, suami dan putriku.
Ada rasa menyesal kenapa gak jadi siangnya ke klinik. Kalau siang ke sana pasti langsung dioperasi. Ada rasa menyesal, kenapa gak jadi dulu kusteril agar dia gak bisa hamil lagi. Selama perjalanan pulang, aku gak bisa berhenti menangis. Terbayang bagaimana dulu aku merasa asing ketika putriku memungut dia dari tong sampah dan membawanya ke rumah. Terbayang suamiku yang anti kucing perlahan lahan jadi sayang dan selalu gendong gendong si kucing setiap pulang kerja. Terbayang si kucing yang setiap malam selalu menemaniku di depan komputer setiap malam. Tak mau tidur meski udah dibawa ke atas. Dia tidur satu kamar dengan kami, dengan tempat tidurnya ada di sudut ruangan. Malam malam, kalau aku sudah matikan komputer dia akan langsung duduk di lantai kamar mandi, karna tahu aku akan ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, baru naik ke atas untuk tidur. Tengah malam, dia sering pindah dari tempat tidurnya dan naik ke badanku. Tidur di situ sampai pagi.

kucingku

Selamat Jalan, Kucingku Sayang. Maafin kami cuma bisa menjagamu sebelas bulan. Andai kau tahu betapa kami semua kehilanganmu. Andai kau tahu betapa aku masih menangis saat menuliskan ini

4 thoughts on “Si Meong Mati: Sedihnya Tak Terlukiskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s