Mom & Tissue Tessa are my Inspirations

Aku lahir dari keluarga besar, sembilan bersaudara dan melewatkan masa kecil di tepian Danau Toba. Ayah seorang guru dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, yang mencari tambahan pendapatan dengan cara membuka kost kostan untuk anak sekolah. Karna hanya seorang guru, ayah kami tentulah tak punya banyak uang, tapi ibu bersikeras bahwa kami semua harus sekolah. Ibu tidak ingin kami seperti beliau, yang hanya sekolah sampai kelas 5 SD dan harus berhenti karna nenek tak mampu membiayainya. Meski tak tamat SD, ibu dikenal pintar, gemar membaca dan tahu banyak hal. Ibulah yang paling menginsipirasiku untuk jadi penulis.

blog tessa2
My lovely mom

Jadi dulu, waktu aku dan kakak kakakku masih kecil, kami semua gemar membaca buku cerita. Satu buku cerita akan kami baca berganti gantian dan kalau sudah selesai, kami baca lagi karna kami tak punya uang untuk beli buku cerita yang baru. Tapi ibu tak kehilangan akal. Ketika kami haus bacaan tapi tak tahu mau baca apa, ibu menulis sendiri cerita karangannya di buku tulis bekas dan setelah selesai, akan diberikannya pada kami untuk kami baca secara bergiliran. Cerita karangan ibu sama menariknya dengan cerita yang kami baca dari buku. Kadang ibu menulis tentang kelinci yang berubah jadi raja, kadang tentang tukang sihir yang baik hati, kadang tentang kisah putri raja. Bahkan kisah terjadinya Danau Toba kami tahu pertama kali justru dari tulisan ibu.

blog tessa
Mom & Tissue Tessa : My insprations

Sejak itulah aku mulai suka menulis. Setiap ada tugas mengarang dari sekolah, aku paling bersemangat untuk menulis. Teman teman sekolahku paling malas kalau sudah ada tugas mengarang, tapi aku malah sebaliknya. Senang sekali. Aku meniru cara ibu menulis, menulis kisah yang tak lazim. Misal ketika tukang sihir sering dideskripsikan jahat, ibu justru menulis kisah seorang tukang sihir yang baik. Ketika putri raja sering digambarkan cantik jelita, ibu justru menggambarkan putri raja yang buruk rupa. Ibu mengajariku untuk selalu mencari ide “out of the box” ketika menulis.

Saat SMP, aku mulai gemar mengirim tulisan ke majalah tapi selalu ditolak. Aku putus asa dan berhenti menulis. Suatu ketika aku minta uang pada ibu karna ingin membeli majalah fiksi yang sangat terkenal waktu itu. Tapi ibu tak punya uang. Aku menangis karna sedih dan kecewa. Lalu ibu bilang begini “Kalau kamu tak punya uang untuk beli buku, maka tulislah buku sendiri agar kamu bisa membacanya gratis.” Kalimat itu terus kuingat. Aku kembali lagi rajin menulis. Selama di SMP tulisanku selalu lolos di mading sekolah. Di SMA satu dua buah artikelku mulai masuk majalah meski mengirimkannya butuh perjuangan. Dulu tidak sama seperti sekarang. Dulu mengetik naskah itu pakai mesin tik, yang kalau salah satu huruf harus dihapus dengan cara menempelkan kertas penghapus. Mengirimnya bukan via email, tapi lewat pos, pakai perangko, dan bisa berminggu minggu baru sampai di meja redaksi. Bayangkan jika naskah itu ditolak dan kita ingin kirim lagi ke redaksi lain. Maka kita harus mengetik ulang lagi, tidak seperti sekarang yang tinggal buka file dokumen dan print ulang. Jadi jangan heran, ketika dulu naskah kita lolos dan terpampang di media massa, yang paling terasa adalah kepuasan bathin, honor menjadi hal yang kesekian.

Hobi menulisku ini berlanjut saat duduk di bangku kuliah. Tapi obsesiku adalah ingin menulis novel, bukan hanya cerpen atau artikel singkat. Dan mimpi itu baru terwujud justru setelah aku menikah dan punya anak. Akhirnya aku bisa menerbitkan novel sendiri. Orang pertama yang kuhubungi adalah ibu. Aku bilang “Ma, aku udah punya buku karya sendiri sekarang. Jadi aku nggak perlu lagi beli buku untuk kubaca. Mama mau baca gak?” Ibu menjawab “Tidak.” Aku tanya kenapa dan ibu jawab “Baca isi wa mu aja mata mama udah susah, apalagi mau baca novel.” Hahahaha, aku lupa ibuku sudah tua dan penglihatannya udah kabur sejak operasi katarak beberapa tahun sebelumnya.

blog tessa 3
Ini nih beberapa novel karyaku

Meski ibu tidak baca novelku, tapi aku tahu beliau turut berbahagia karna mimpiku akhirnya terwujud. Ibu menginspirasiku bukan dengan memberi petuah setiap hari, tapi dengan tindakan nyata. Aku menulis bukan karna disuruh ibu, tapi karna aku melihatnya menulis. Begitulah seharusnya inspirasi, muncul bukan dari sekedar perkataan, tapi dari yang nyata. Seperti Tissue Tessa yang juga menginspirasiku untuk menaruh perhatian terhadap lingkungan, bukan hanya dengan sekedar slogan dan tagline, tapi dimulai dengan bahan bakunya sendiri. Tissue Tessa merupakan satu satunya tissue di Indonesia yang memiliki sertifikat FSC, bahan bakunya tidak diambil dari sembarang hutan, tapi bersumber dari pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, serta berkontribusi dalam pelestarian alam (go green). Tissue Tessa 100% terbuat dari serat kayu alami, sehingga aman dan mudah hancur saat sudah menjadi sampah. Tissue Tessa menginspirasiku untuk juga mulai turut ambil bagian dalam pelestarian alam. Jika Tissue Tessa menjaga alam dengan cara mengambil bahan baku dari pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, maka aku mulai menjaga alam dari cara paling sederhana dulu, antara lain : tidak membuang sampah sembarangan, hemat memakai air, dan juga cerdas dalam membeli produk. Pilihlah produk yang ramah lingkungan dan paling minim resiko terhadap alam. Makanya aku selalu pilih Tissue Tessa untuk kebutuhan sehari hari, karna aku tahu Tissue Tessa adalah tissue yang ramah lingkungan. Yukk, turut melestarikan alam dengan cara paling sederhana dulu : Pilih Tissue Tessa sebagai tissue andalanmu setiap hari

tessa7
Kemanapun aku pergi, pasti ada Tissue Tessa menemaniku
tessa10
Selalu ada Tissue Tessa bersama kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s